Flickr Photo Stream

Minggu, 15 Januari 2012

Sudah Miskin Tanpa Jamkesmas dan BLT

GUBUGNYA berada di tepi rawa yang ditumbuhi pohon 'bulung' dan di bawah rumpun bambu serta disamping kandang kambing. Jika hujan turun, rawa akan meluapkan air dari kali mati penampung air dari pemukiman penduduk Dusun Mrican Kulon, menggenangi gubug itu.
Gubuk ini tanpa penerangan listrik karena tak mampu membayar tagihan rekening setiap bulannya.
Sungguh memprihatinkan, di tengah kerentaannya, nenek ini harus hidup dari pemberian dermawan yang singgah karena merasa prihatin melihat keadaannya.
Gubug dihuni oleh Nenek Saodah atau Mbah Kudung yang sudah berusia 117 tahun, dua anaknya, yaitu yang pertama Waryuni (85) dan anak kedua Karsiwen (80). Mereka tercatat sebagai warga Rt 10 Rw 01 Dusun Mrican Kulon, Desa Mrican. 
Anak tunggal Nenek Karsiwen yaitu Caryumi (40) dengan suami Casmuri (45) yang telah memiliki enam anak tersebut menceritakan, Mbah Saodah dan Ibu serta Ibu gedenya tinggal dalam satu gubug reot dengan ukuran 5x4 meter persegi. Dinding gedeg bambu, atap daun 'bulung' serta lantai tanah.
''Dalam ruangan disekat dengan pelepah 'bulung' menjadi empat ruang, terdiri dari ruang tamu, dapur dan dua kamar. Mbah kudung tidur di kamar menggunakan kursi kayu panjang alas tikar, tanpa bantal,'' paparnya.   
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan perajin daun 'bulungan' dibuat atap oleh Nenek Karsiwen. Untuk dijual seharga Rp 2 ribu perlembar.
''Terkadang saya sebagai cucu, memberi makan ke tiga nenek tersebut. Dengan menu makan seadanya, yakni sayur kangkung atau jenis yang lain serta lauk tempe atau tahu,'' ujarnya.
Jika akan mandi, Nenek Saodah harus di pangku menuju sumur yang berjarak sekitar puluhan meter dari gubugnya. ''Sumur berada disamping rumah saya,'' ucapnya.
Sementara, Nenek Saodah saat ditanya, mengenai kondisi rumahnya mengungkapkan dengan terbata-bata, dia ingin diperbaiki gubug yang sudah reot dan ingin makan yang cukup.
''Saya ingin dibantu merehab gubug dan kebutuhan makan sehari-hari tercukupi,'' katanya.
Nenek Karsiwen menambahkan, selama ini hidup tergantung dengan anak tunggalnya Caryumi yang rumahnya berdekatan. Dia memelihara kambing milik orang lain untuk kesibukan setiap hari mencari rumput. 
''Tergantung terus kepada anak, merasa tidak tega, karena harus mengurusi ke enam cucu saya,'' tuturnya.
Setiap turun hujan deras air masuk ke gubug ketinggian sekitar satu meter. Lahan yang ditempati di dataran rendah, sebagai tempat pembuangan air.
''Saat hujan, saya dan nenek yang lain mengungsi ke rumah anak yang posisinya lebih tinggi dan tidak kebanjiran,'' ujarnya.
Terpisah, Kades Kurdi didampingi Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) Mundari mengungkapkan, pihak desa selama ini sudah mengusahakan agar Nenek Saodah bisa mendapatkan Jamkesmas, BLT dan diajukan pugar rumah. Tetapi sampai saat ini belum turun, padahal kondisi rumah sudah reot.
''Ingin adanya bantuan pugar rumah dari Pemkab Pekalongan, untuk merehab rumah Nenek Saodah yang sudah tidak layak huni. Ini merupakan ketidak mampuan pihak desa untuk membantu warga yang miskin.'' harapnya. (*/tri)
PortaL : RadaR

  • GABUNG KOMUNITAS APLIKASI FaceBook FREE KLIK DISINI 
  • SITUS JEJARING APLIKASI FACEBOOK FREE KLIK DISINI  

0 komentar:

Posting Komentar